Ketika berbicara tentang perlindungan struktur beton dari rembesan dan kelembapan, dua pendekatan umum sering digunakan: waterproofing permukaan (surface waterproofing) dan waterproofing subsurface (bawah permukaan). Keduanya memiliki fungsi untuk mencegah air masuk ke dalam beton, namun cara kerja dan efektivitasnya sangat berbeda.
Artikel ini akan membahas perbandingan keduanya secara teknis dan praktis, agar Anda bisa memilih solusi yang paling tepat untuk proyek Anda.
🧱 1. Apa Itu Waterproofing Permukaan?
Waterproofing permukaan adalah metode pelapisan bagian luar dari struktur beton dengan bahan kedap air. Contohnya termasuk:
- Membrane coating (bitumen, PU coating)
- Pelapis berbasis akrilik atau epoxy
- Cairan pelapis roll-on
✅ Kelebihan:
- Mudah diaplikasikan
- Banyak pilihan produk di pasaran
- Memberi perlindungan visual pada permukaan
❌ Kelemahan:
- Rentan rusak oleh goresan, benturan, atau cuaca ekstrem
- Tidak tahan lama tanpa perawatan rutin
- Retakan baru di beton bisa membuat lapisan jadi tidak efektif
- Jika terjadi kebocoran, sulit ditelusuri dan diperbaiki dari luar
🧬 2. Apa Itu Waterproofing Subsurface?
Berbeda dari metode pelapisan, waterproofing subsurface bekerja di dalam beton dengan cara menyegel pori dan retakan dari dalam. Salah satu contohnya adalah teknologi enzimatik kristalisasi seperti TechCrete 2500 dari Alchemco.
Cara kerja:
- Produk cair diaplikasikan ke permukaan beton
- Menyerap ke dalam pori-pori
- Bereaksi dengan mineral beton dan air
- Membentuk kristal yang menutup jalur air secara permanen
✅ Kelebihan:
- Perlindungan dari dalam – tidak terkelupas atau rusak
- Self-sealing – retakan baru hingga 0,5 mm bisa tertutup otomatis
- Tahan lama – seumur hidup struktur
- Bisa diaplikasikan dari sisi positif maupun negatif (bagian luar atau dalam beton)
❌ Kelemahan:
- Memerlukan kondisi beton yang lembab agar reaksi berjalan optimal
- Perlu edukasi teknis lebih saat pertama kali digunakan
